Dunia hip-hop nggak pernah benar-benar damai, tapi kalau kita bicara soal rivalitas paling ikonik di era modern, nama Drake dan Kendrick Lamar pasti ada di barisan terdepan. Ini bukan sekadar adu mulut biasa; ini adalah benturan dua filosofi besar. Di satu sisi, kita punya Drake, sang raja streaming yang punya sentuhan Midas dalam pop-rap. Di sisi lain, ada Kendrick Lamar, sang penyair jalanan pemenang Pulitzer yang setiap liriknya punya bobot sejarah.
Banyak yang mengira perseteruan ini baru panas di tahun 2024 gara-gara lagu “Like That”. Padahal, api kecilnya sudah menyala sejak lebih dari satu dekade lalu. Mari kita bedah bagaimana hubungan yang awalnya saling dukung ini berubah menjadi salah satu beef paling personal dalam sejarah musik.
2011–2012: Masa Honeymoon dan “Poetic Justice”
Balik ke tahun 2011, hubungan Drake dan Kendrick Lamar sebenarnya sangat harmonis. Drake, yang saat itu sudah mulai memuncaki tangga lagu, memberikan panggung besar buat Kendrick yang masih terhitung pendatang baru di kancah arus utama. Kendrick muncul di lagu “Buried Alive Interlude” dalam album fenomenal Drake, Take Care.
Setahun kemudian, Drake membalas budi dengan mengisi verse di lagu “Poetic Justice” dari album legendaris Kendrick, good kid, m.A.A.d city. Saat itu, mereka terlihat seperti duo masa depan yang akan menguasai industri. Tapi di balik layar, ego dua raksasa ini mulai bergesekan. Drake mungkin merasa sebagai mentor, sementara Kendrick nggak pernah mau merasa berada di bawah bayang-bayang siapa pun.
2013: Bom Nuklir Bernama “Control”
Peta persaingan berubah total pada Agustus 2013. Big Sean merilis lagu “Control”, dan Kendrick Lamar hadir sebagai guest star. Tapi, dia nggak cuma sekadar nge-rap. Kendrick menyebutkan sederet nama rapper top, termasuk J. Cole, ASAP Rocky, dan tentu saja—Drake.
Kendrick bilang: “I got love for you all, but I’m tryna murder you.”
Secara teknis, itu adalah tantangan kompetitif yang biasa dalam kultur hip-hop. Tapi Drake, dengan gaya khasnya yang sensitif, nggak terima. Dalam wawancara dengan Billboard tak lama setelah itu, Drake menyebut verse Kendrick cuma sekadar “ambisi sesaat” dan merasa itu nggak tulus. Sejak saat itu, jabat tangan mereka berubah jadi tatapan sinis dari jauh.
Baca Juga:
6 Rapper West Coast Amerika yang Menjadi Legenda dan Digemari Hingga Sekarang
Perang Dingin: Subliminal Messages Selama Satu Dekade
Setelah insiden “Control”, keduanya masuk ke fase Cold War. Mereka jarang menyebut nama satu sama lain secara langsung, tapi penggemar yang teliti (dan para detektif internet) tahu betul kalau lirik-lirik mereka penuh dengan sindiran tersembunyi alias subliminal messages.
Di lagu “The Language”, Drake diduga menyindir Kendrick dengan gaya rap yang mirip. Kendrick nggak tinggal diam. Di acara BET Hip Hop Awards Cypher tahun 2013, dia melempar lirik yang seolah mengejek status Drake sebagai “sensitive rapper”. Selama bertahun-tahun, pola ini terus berulang. Drake akan merilis lagu tentang kesuksesannya yang tak tertandingi, dan Kendrick akan merilis lagu tentang bagaimana kualitas seni lebih penting daripada angka penjualan.
Kemunculan J. Cole dan Narasi “The Big Three”
Tahun 2023 menjadi titik balik yang memicu ledakan besar. J. Cole merilis lagu “First Person Shooter” bareng Drake. Di lagu itu, Cole menyebut bahwa dia, Drake, dan Kendrick adalah “The Big Three” atau tiga besar di industri rap saat ini.
Bagi orang biasa, ini terdengar seperti pujian. Tapi bagi Kendrick Lamar yang punya jiwa kompetitif murni, ide untuk disejajarkan—apalagi kalau posisi nomor satunya masih diperdebatkan—adalah sebuah penghinaan. Kendrick nggak mau jadi bagian dari “Tiga Besar”. Dia ingin menjadi “Satu-satunya”.
Maret 2024: “Like That” dan Deklarasi Perang Terbuka
Maret 2024, produser Metro Boomin dan rapper Future merilis album kolaborasi We Don’t Trust You. Kendrick muncul sebagai surprise feature di lagu “Like That”. Kali ini, dia nggak main rahasia-rahasiaan lagi.
Kendrick langsung menyerang balik narasi J. Cole: “Motherf** the big three, n**a, it’s just big me!”
Dia juga memberikan sindiran pedas ke Drake dengan referensi album For All The Dogs. Internet langsung meledak. Ini adalah pertama kalinya setelah sekian lama, seorang rapper papan atas menantang Drake secara frontal di puncak kariernya. Dunia hip-hop langsung terbelah menjadi dua kubu: Team Drizzy atau Team K-Dot.
Respon Drake: “Push Ups” dan “Taylor Made Freestyle”
Drake nggak tinggal diam. Setelah sempat diam beberapa minggu dan cuma kasih kode-kode di Instagram, dia akhirnya merilis “Push Ups”. Di sini, Drake mengejek fisik Kendrick (tinggi badan), kontrak rekaman lamanya, hingga hubungannya dengan artis pop seperti Taylor Swift dan Maroon 5. Drake ingin membangun narasi bahwa Kendrick adalah “aktivis” yang sebenarnya hanya haus uang dan dikontrol oleh label.
Tak puas sampai di situ, Drake merilis “Taylor Made Freestyle” yang kontroversial karena menggunakan AI untuk meniru suara mendiang Tupac Shakur dan Snoop Dogg guna memprovokasi Kendrick agar segera membalas. Meski akhirnya dihapus karena masalah hukum dengan ahli waris Tupac, pesan Drake jelas: “Ayo balas, atau kamu kalah.”
Mei 2024: “Euphoria” dan “6:16 in LA”
Setelah berminggu-minggu bungkam, Kendrick Lamar akhirnya melepaskan “Euphoria”. Lagu berdurasi enam menit ini bukan sekadar diss track, tapi sebuah bedah karakter. Kendrick secara gamblang menyatakan kebenciannya pada Drake—cara Drake bicara, cara Drake berjalan, hingga caranya menjadi orang tua.
Dua hari kemudian, Kendrick merilis “6:16 in LA”, sebuah lagu yang lebih tenang tapi jauh lebih mengintimidasi. Kendrick mengklaim bahwa orang-orang di dalam lingkaran internal OVO (label Drake) sebenarnya membenci Drake dan membocorkan informasi kepadanya. Kendrick sedang melakukan perang urat saraf (psychological warfare).
Puncak Konflik: “Family Matters” vs “Meet the Grahams”
Ketegangan mencapai puncaknya pada awal Mei 2024. Drake merilis “Family Matters”, sebuah lagu yang sangat dipoles dengan video klip mewah. Di sini, Drake melemparkan tuduhan berat: dia menuduh Kendrick melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap tunangannya dan mengklaim bahwa salah satu anak Kendrick sebenarnya adalah anak dari manajernya sendiri.
Namun, hanya berselang 20 menit setelah Drake merilis lagu tersebut, Kendrick membalas dengan “Meet the Grahams”. Ini adalah momen paling gelap dalam sejarah perseteruan mereka. Dengan beat yang terdengar seperti film horor, Kendrick berbicara langsung kepada anggota keluarga Drake: ayahnya, ibunya, anaknya (Adonis), dan bahkan menuduh Drake punya anak perempuan rahasia yang disembunyikan dari dunia. Kendrick juga menuduh Drake terlibat dalam lingkaran predator seksual di industri tersebut.
“Not Like Us”: Lagu Kebangsaan Kemenangan Kendrick?
Sehari setelah suasana mencekam “Meet the Grahams”, Kendrick merilis “Not Like Us”. Berbeda dengan lagu sebelumnya yang gelap, lagu ini adalah club banger dengan nuansa West Coast yang sangat kental. Isinya? Kendrick mengulang kembali tuduhan bahwa Drake adalah “pedophile” dan “cultural colonizer” (penjajah budaya) yang hanya memanfaatkan budaya kulit hitam demi keuntungan pribadi.
Lagu ini langsung memecahkan rekor streaming dan menjadi lagu nomor satu di berbagai tangga lagu. Drake mencoba membalas dengan “The Heart Part 6”, di mana dia membantah semua tuduhan dan mengklaim bahwa dia sengaja memberi informasi palsu kepada Kendrick. Namun, publik tampaknya sudah memilih pemenangnya. Energi “Not Like Us” terlalu besar untuk dibendung.
Mengapa Perseteruan Ini Begitu Penting?
Perseteruan Drake dan Kendrick Lamar bukan cuma soal siapa yang lebih jago merangkai rima. Ini adalah soal identitas. Drake mewakili era di mana hip-hop menyatu dengan pop, media sosial, dan algoritma. Kendrick mewakili akar hip-hop sebagai alat protes, integritas lirik, dan penjaga budaya.
Hingga saat ini, tensi antara Drake dan Kendrick Lamar masih terasa sangat tinggi. Meskipun belum ada lagu baru yang dirilis dalam beberapa bulan terakhir, dampaknya sudah permanen. Citra Drake sebagai sosok yang tak tersentuh mulai retak, sementara status Kendrick sebagai “Boogeyman” di industri rap semakin kokoh.
Dunia kini menunggu, apakah ini benar-benar akhir dari saga sepuluh tahun tersebut, ataukah ini hanya jeda sebelum ledakan berikutnya? Satu yang pasti, sejarah hip-hop tidak akan pernah sama lagi setelah perang antara dua titan ini.
Apakah kamu tim Kendrick yang mengedepankan lirik tajam, atau tim Drake yang punya lagu-lagu hits yang nggak bisa berhenti diputar? Beri tahu saya bagian mana dari perseteruan ini yang paling mengejutkan menurutmu!