Industri musik Indonesia telah berubah drastis dalam satu dekade terakhir. Dari yang dulunya bergantung pada penjualan fisik dan konser, kini streaming musik digital menjadi sumber pendapatan terbesar. Tapi di balik angka besar yang sering ditampilkan. Bagaimana sebenarnya pendapatan musisi dari streaming? Artikel ini bakal membahas fakta, data, sistem, hingga realita yang sering tersembunyi dari pandangan umum.
1. Industri Streaming Musik: Gambaran Besar
Streaming musik bukan hal baru lagi. Layanan seperti Spotify, YouTube Music, Apple Music, dan Deezer kini mendominasi cara orang mendengarkan musik di seluruh dunia — termasuk di Indonesia. Data global menunjukkan bahwa kontribusi streaming terhadap keseluruhan pendapatan rekaman musik telah mencapai puluhan persen dari total industri musik.
Di Indonesia sendiri, kontribusi streaming terhadap industri musik nasional diperkirakan terus meningkat pesat. Bahkan lebih dari 90% pendapatan industri musik digital Indonesia berasal dari streaming digital menurut proyeksi laporan industri terbaru.
2. Seberapa Besar “Royalti” dari Streaming Itu?
Skala Global
Platform streaming besar secara global memang membayar jumlah total yang sangat besar ke industri musik. Misalnya, Spotify melaporkan membayar lebih dari US$10 miliar (±Rp156–163 triliun) kepada pemegang hak cipta musik sepanjang 2024.
YouTube Music juga ikut ambil bagian dengan membayar payout sebesar US$8 miliar dalam periode tertentu.
Namun, Itu Tidak Berarti Semua Artis Kaya
Meski total angka terlihat besar, itu bukan berarti setiap musisi dapat banyak uang. Sebuah laporan global menyatakan bahwa hanya sebagian kecil dari total artis di platform seperti Spotify yang benar‑benar mendapatkan pendapatan signifikan dari streaming saja.
Contohnya, dari ratusan ribu artis, hanya sekitar 1.500 yang mendapat lebih dari US$1 juta dalam setahun, dan banyak artis lainnya menerima jauh di bawah itu.
3. Sistem Pembayaran Royalti: Pro Rata dan Kecilnya Bayaran Per Stream
Apa Itu Pro Rata?
Salah satu hal yang paling membingungkan soal pendapatan dari streaming adalah model pembayaran pro rata. Secara sederhana: semua uang yang masuk dari langganan dan iklan dikumpulkan ke dalam satu “pot” besar, lalu dibagi ke pemegang hak berdasarkan proporsi total jumlah streaming mereka dibandingkan dengan semua lagu lainnya di platform.
Dengan sistem ini:
-
Tidak ada angka tetap per stream.
-
Pembayaran tergantung pada total pendapatan platform, total streaming musisi lain, dan hak cipta yang terlibat.
Baca Juga:
Playlist Musik Berdasarkan Mood, Cara Lagu Mempengaruhi Emosi dan Produktivitas
Rate Per Stream Itu Berapa?
Kalau kamu sering dengar angka seperti “$0,003 – $0,005 per stream”, itu sebenarnya adalah estimasi berdasarkan laporan pihak ketiga tentang bagaimana platform seperti Spotify membayar kepada pemegang hak musik secara global — bukan pembayaran langsung ke artis.
Artinya, untuk menghasilkan pendapatan berarti dari streaming saja, sebuah lagu perlu di‑stream ratusan ribu bahkan jutaan kali.
4. Realita Bagi Musisi Indonesia
Ada Pertumbuhan, Tapi…
Musisi Indonesia kini bisa mendapatkan lebih banyak pendengar melalui platform streaming — bahkan sampai jutaan kali diakses secara global. Spotify misalnya, melaporkan bahwa artis Indonesia mencapai miliaran pendengar baru dan ribuan masuk ke playlist editorial mereka sepanjang satu tahun.
Royalti yang diterima artis Indonesia sendiri juga dilaporkan meningkat signifikan dibanding beberapa tahun yang lalu.
Namun, Tantangan Belum Usai
Meski data‑data tersebut terlihat positif, banyak musisi Indonesia yang tetap merasa realita industri tidak sepenuhnya menguntungkan:
-
Royalti bersih yang diterima sering lebih kecil setelah dibagi dengan label, distributor, dan kolektif hak cipta.
-
Pendapatan utama seringkali masih dari konser, merchandise, atau kerja tambahan, bukan dari streaming semata.
5. Kenapa Banyak Artis Mengeluh Soal Royalti Streaming?
Banyak musisi merasa bahwa sistem pembayaran streaming terasa tidak adil karena:
1. Pembayaran Per Stream Terasa “Kecil”
Walau Spotify membayar miliaran dolar, rata‑rata artis kecil tetap mendapat sangat sedikit jika di bandingkan dengan jumlah streaming yang perlu di capai untuk “layak bayar”.
2. Tidak Semua Pendapatan Langsung ke Artis
Platform tidak membayar langsung kepada artis, tetapi kepada pemegang hak cipta — biasanya label atau distributor. Bagian yang sampai ke artis tergantung pada kontrak mereka.
3. Ketergantungan pada Eksposur Global
Meski streaming membuka jalur distribusi global, itu juga berarti musisi harus bersaing dengan jutaan lagu lain supaya karya mereka di dengar. Jika tidak, pendapatan tetap minim.
6. Strategi Musisi Mengakali Realita
Karena realitas streaming masih belum cukup, banyak musisi di Indonesia dan global melakukan:
-
Maksimalkan presentasi streaming (playlist, kolaborasi).
-
Menggunakan layanan lain seperti YouTube, Bandcamp, atau NFT untuk diversifikasi pendapatan.
-
Menguatkan brand lewat tur, konser, dan merchandise sebagai sumber utama pemasukan.
7. Apakah Streaming Itu Baik atau Tidak?
Tidak bisa di pungkiri bahwa streaming telah membawa industri musik Indonesia ke pangsa publik yang jauh lebih besar di banding era fisik atau unduhan. Lebih banyak musisi bisa “di temukan” di luar negeri dan tetap menambah pendapatan mereka.
Namun dari sisi pertumbuhan ekonomi artis secara individual, banyak masih merasa angka besar industri tidak sebanding dengan realitas royalti di saku mereka sendiri.
Kalau kamu masih berpikir bahwa streaming otomatis membuat musisi kaya. Itu adalah pemikiran yang agak terlalu optimis. Meski streaming nyata‑nyata membawa pendapatan besar ke industri, bagian yang sampai ke musisi sangat di pengaruhi oleh banyak faktor seperti model pembayaran, posisi artis dalam ekosistem, serta kontrak yang mereka miliki.